fbpx

Perdana Menteri Inggris Theresa May Buka Opsi Referendum Kedua

0

Perdana Menteri Inggris Theresa May memperingatkan lawan-lawan politiknya di Parlemen Inggris bila tetap menolak proposal perdamaian yang ditawarkan maka PM May akan membuka opsi melakukan referendum kedua, meskipun dia menegaskan tidak suka opsi tersebut.

Karena itu, May terus membujuk kubu yang bertentangan dengan perjanjian Brexit yang dibuatnya untuk disetujui. Namun bila usulan itu ditolak Parlemen Inggris dalam pemungutan suara bulan ini, PM May memperingatkan, Britania Raya akan berada dalam kondisi ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam upaya memperjuangkan perjanjian Brexit, pada Minggu kemarin, May menguraikan ada tiga item yang diperlukan untuk memenangkan dukungan perjanjian yang dibuat Inggris dengan Uni Eropa.

PM May mengusulkan agar Parlemen diberi ruang menyampaikan pendapat yang lebih besar tentang ketentuan perdagangan masa depan dengan Blok Uni Eropa. Kemudian, berjanji memberikan masukan bagaimana kesepakatan Brexit ini dapat dijalankan di Irlandia Utara dan mencari jaminan baru dari Uni Eropa.

Hingga kurang dari tiga bulan sebelum Inggris resmi keluar dari Uni Eropa, belum ada kejelasan tentang status Inggris dan hubungan mereka kedepan. Kesepakatan Inggris dengan Uni Eropa yang diupayakan May selama 18 bulan terakhir melalui negosiasi yang melelahkan tampaknya belum ada harapan akan disetuji parlemen.

Kondisi ini akan membawa Inggris keluar dari Blok Uni Eropa tanpa kesepakatan apa pun. Maka dampaknya, adalah menempatkan lowongan pekerjaan dan ekonomi Inggris dalam risiko karena Inggris akan kehilangan sejumlah kemudahan ekonomi yang selama ini dinikmati.

“Jika parlemen tidak menyetujui kesepakatan yang sudah dirundingkan selama ini, maka sebenarnya kita akan berada di wilayah belum dipetakan,” kata May di BBC Andres Marr Show seperti dikutip Reuters.

Bila nantinya, PM May gagal mendapat dukungan majelis rendah (House of Commons) dalam pemunguatan suara bulan ini, maka opsi dramatis yang dilakukan adalah membuka kesempatan untuk referendum kedua.

Sementara menurut hasil dari jajak pendapat Brexit Tracker oleh EY Financial Services dari lembaga perbankan, sejumlah dana £ 800 miliar ($ 1,024 triliun) telah meninggalkan benua Eropa atau telah disiapkan untuk transisi dari London ke tempat lain di Eropa sebelum Brexit. Ketidakpastian politik yang tak berujung dan terus-menerus membuat badan-badan yang berkuasa di Inggris mempersiapkan Brexit tanpa-kesepakatan, memindahkan aset mereka dari Inggris dan ke kota-kota Eropa, mengerutkan kumpulan likuiditas London ketika investor meninggalkan kapal.

Sejak Referendum UE, 20 perusahaan yang dipantau telah mengumumkan pengalihan aset dari London ke Eropa. Tidak semua perusahaan secara terbuka menyatakan nilai aset yang ditransfer tetapi Brexit Tracker telah mengikuti pengumuman publik senilai sekitar £ 800 miliar.

Pada 30 November 2018, 36% (80 dari 222) perusahaan yang dipantau dalam Pelacakan Brexit Jasa Keuangan EY telah secara publik mengkonfirmasi atau menyatakan niat mereka untuk memindahkan beberapa operasi dan/atau staf mereka dari Inggris ke Eropa telah meningkat dari 31% (68/222) selama dua belas bulan terakhir. Untuk bank universal dan investasi, sektor wealth and asset managers dan asuransi, jumlah itu melonjak menjadi 48% dari perusahaan (68 dari 143).

Omar Ali, Pemimpin Jasa Keuangan Inggris di EY, berkomentar: “Untuk mengantisipasi pemungutan suara Parlemen pada bulan Januari, City akan mengawasi dengan cermat untuk melihat apakah kesepakatan Brexit yang diusulkan akan diterima atau apakah itu kembali ke keputusan Pemerintah. Seperti sesuai peraturan, perusahaan jasa keuangan tidak punya pilihan selain untuk terus mempersiapkan berdasarkan skenario “tidak ada kesepakatan”.

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us