FOMC: Fed Terus Mendukung Jeda Kenaikan Suku Bunga Di Tengah Inflasi Yang Sedikit Mendingin

Pembuat kebijakan Federal Reserve mengatakan bahwa pendekatan sabar mereka terhadap tindakan kebijakan moneter dapat berlanjut untuk beberapa waktu di tengah kekhawatiran atas laju inflasi yang melamban, menurut risalah pertemuan terakhir The Fed (FOMC) yang dirilis Rabu.

The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 2.25% hingga 2.5% di akhir pertemuan kebijakan dua hari pada 1 Mei.

“Anggota mengamati bahwa pendekatan sabar untuk menentukan penyesuaian masa depan pada kisaran target untuk tingkat dana federal kemungkinan akan tetap sesuai untuk beberapa waktu, terutama dalam lingkungan pertumbuhan ekonomi yang moderat dan tekanan inflasi yang diredam, bahkan jika kondisi ekonomi dan keuangan global terus berlanjut naik,” menurut berita acara (FOMC).

Meskipun ada kekhawatiran atas laju inflasi yang diredam 1.6%, menurut risalah terbaru, The Fed memperkirakan bahwa inflasi harga PCE inti akan naik dalam waktu dekat tetapi tetap berjalan di bawah target 2% dalam jangka menengah.

“Total inflasi harga PCE diperkirakan akan sedikit di bawah inflasi inti pada tahun 2020 dan 2021, yang mencerminkan proyeksi penurunan harga energi,” kata The Fed dalam risalah.

Namun, para anggota Fed tampaknya menggembar-gemborkan optimisme jangka pendek untuk ekonomi domestik, dengan perkiraan PDB riil akan berkembang pada tingkat di atas perkiraan staf tentang potensi pertumbuhan output pada 2019 dan 2020 tetapi kemudian melambat menjadi langkah di bawah potensi output pertumbuhan pada 2021.

Pada pertemuan sebelumnya, Federal Reserve mengatakan bahwa kegiatan ekonomi naik pada tingkat yang solid tetapi mengakui bahwa pertumbuhan pengeluaran rumah tangga dan investasi bisnis tetap melambat pada kuartal pertama.

Menyusul kekacauan baru-baru ini dalam perdagangan AS-China, The Fed menyatakan kekhawatiran bahwa kebijakan perdagangan dan perkembangan ekonomi asing dapat bergerak ke arah yang memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi AS.

Hal itu menggemakan komentar sehari sebelumnya dari Presiden Fed cabang Boston Eric Rosengren, yang mengatakan bahwa ketidakpastian seputar sengketa perdagangan AS-China akand apat menambah risiko penurunan perkiraannya untuk ekonomi.

“The Fed juga menguraikan dua skenario mengenai rencananya untuk mengakhiri program pengurangan neraca: portofolio yang proporsional dan portofolio yang jatuh tempo yang lebih pendek, yang terakhir akan memberikan tekanan ke atas yang signifikan pada premi berjangka dan menyiratkan bahwa jalur federal suku bunga dana harus lebih rendah secara bersamaan untuk mencapai hasil ekonomi makro yang sama seperti pada prospek awal, ” menurut risalah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp us