PPI China Mengalami Penurunan

Indeks harga produsen China (PPI) mencatat penurunan yang lebih lambat pada bulan November, yang mengukuhkan sikap hati-hati terhadap berlanjutnya laju pemulihan dari pandemi Covid-19, namun untuk indeks harga konsumen justru mencatat penurunan untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade terakhir akibat penurunan harga pangan.

Data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional pada hari sebelumnya menunjukkan bahwa indeks harga konsumen (CPI) berkontraksi 0.6% di tingkat bulanan, lebih rendah dari perkiraan kontraksi 0.2% pada bulan Oktober sebelumnya, sementara di tingkat tahunan laju CPI mengalami penyusutan 0.5% di bawah perkiraan pertumbuhan 0.8% dan jauh dibawah pertumbuhan 0.5% pada bulan sebelumnya.

Untuk indeks harga produsen dilaporkan mengalami kontraksi 1.5% di tingkat tahunan, namun masih diatas perkiraan kontraksi 1.8% dan lebih baik dari kontraksi sebesar 2.1% di bulan Oktober sebelumnya, yang mana penurunan ini dinilai melaju lebuh lambat dari perkiraan.

Tidak stabilnya harga pangan menjadi faktor utama dari melambatnya laju inflasi, menyusul penurunan harga daging babi setelah mengalami lonjakan sebelumnya yang diakibatkan oleh demam babi Afrika, yang membuat industri peternakan babi di China mengalami keterpurukan, namun inflasi inti di bulan November yang tidak mencakup biaya makanan dan energi justru dilaporkan tidak mengalami perubahan di 0.5% dari bulan Oktober.

Data perdagangan sejak awal pekan ini menunjukkan bahwa ekspor meningkat 21.1% secara tahunan di bulan November dan neraca perdagangan tumbuh menjadi $ 75.42 miliar di bulan November, yang mana data ini bertentangan dengan perkiraan $ 53.50 miliar dan angka yang diperoleh di bulan Oktober sebesar $ 58.44 miliar, sementara impor tumbuh 4.5% di tingkat tahunan pada bulan November, yang meleset dari prediksi pertumbuhan 6.1% dan sedikit lebuh rendah dari pertumbuhan 4.7% di bulan Oktober sebelumnya.

Sejumlah investor telah mengeluarkan peringatan mengenai ketidakseimbangan pemulihan, menyusul apresiasi mata uang yuan serta laju permintaan global yang masih lesu untuk beberapa sektor ekonomi.

Prospek jangka pendek untuk permintaan global tetap suram, dengan California, Jerman, Korea Selatan, dan Hong Kong semuanya mengumumkan langkah-langkah pembatasan yang diperketat untuk mengekang peningkatan jumlah kasus COVID-19 harian.

Seorang ekonom China dari Bloomberg David Qu mengatakan bahwa deflasi terhadap data CPI kemungkinan masih akan berlanjut hingga awal 2021 mendatang. Hal ini bersumber pada masalah utama yakni bagaimana tren harga mampu mempengaruhi aktifitas secara lebih luas.

Lebih lanjut Qu juga mengatakan bahwa deflasi harga produsen juga menjadi faktor yang menekan kenaikan keuntungan bagi industri dan saat ini penurunan harga konsumen bisa menimbulkan risiko bagi laju pendapatan, sehingga ini akan menjadi pertimbangan bagi PBOC yang tidak dapat diabaikan begitu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp us