PDB Korea Selatan Terendah 2019 Sejak Krisis Keuangan

Lonjakan belanja pemerintah Korea Selatan menopang pertumbuhan ekonomi Korea Selatan pada kuartal IV 2019, yang menjadi pertumbuhan ekonomi tercepat dalam dua tahun terakhir. Namun, penurunan ekspor dan ketegangan perdagangan global membuat ekonomi secara tahunan turun ke level terendah sejak tahun 2009.

Mengutip berita dari Reuters, perlambatan ekonomi Korea Selatan terjadi ketika pemerintahan Presiden Moon Jae-in meningkatkan belanja fiskal dan ketika Bank of Korea mempertimbangkan stimulus lebih lanjut untuk melindungi ekonomi dari perlambatan global.

Produk domestik bruto Korea Selatan tumbuh 1.2% pada kuartal IV 2019 dari kuartal sebelumnya. Bank of Korea mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi ini merupakan yang tercepat sejak kuartal III-2017.

“Belanja pemerintah jelas merupakan pendorong utama karena ekspor terhambat,” kata Park Chong-hoon, ekonom Standard Chartered Bank.

“Ada prospek perbaikan ekspor tahun ini dengan penandatanganan kesepakatan dagang AS-China dan saat China melanjutkan kebijakan fiskal ekspansifnya”.

Pengeluaran pemerintah yang kuat di bidang infrastruktur publik dikombinasikan dengan konsumsi swasta yang lebih baik meningkatkan pertumbuhan pada kuartal keempat tahun 2019, tetapi ekspor tak banyak terbantu, sehingga tidak banyak memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Pada kuartal IV 2019, konsumsi swasta naik 0.7% dari tiga bulan sebelumnya, sementara investasi konstruksi naik hingga 6.3%.

Volume ekspor turun 0.1%, mencerminkan penurunan pengiriman yang turun selama 13 bulan berturut-turut hingga Desember.

Untuk keseluruhan tahun 2019, ekonomi Korea Selatan tumbuh 2%, laju paling lambat dalam 10 tahun terakhir dan sesuai dengan proyeksi bank sentral.

“Dari 2% kontribusi pemerintah terhadap pertumbuhan mencapai 1.5 percentage point, porsi terbesar sejak 2009 tetapi tidak mengubah fakta bahwa itu adalah tahun yang sulit bagi Korea dalam hal ekspor,” kata seorang pejabat bank sentral.

Dalam briefing pers setelah rilis PDB, pejabat Bank of Korea mengatakan munculnya virus corona dari China menimbulkan risiko baru yang dapat mengganggu belanja konsumen.

“Dengan kasus sindrom pernafasan Timur Tengah, orang tidak banyak keluar dan jumlah orang yang bepergian lebih sedikit, sehingga penyebaran virus baru dapat mengurangi konsumsi,” kata Park Yang-su, direktur jenderal Bank of China.

Sebagaimana diketahui, Korea Selatan pada tahun 2015 pernah menyusun anggaran tambahan untuk membantu mengatasi dampak pecahnya wabah MERS.

Virus corona China yang berasal dari Wuhan pada akhir tahun lalu menyebar ke Beijing, Shanghai dan ke tempat lain, dengan kasus-kasus serupa yang terjadi di Thailand, Korea Selatan, Jepang dan Taiwan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp us