Suku Bunga Fed 2020 Diprediksikan Melandai di Level 2%

Pada tahun 2020, suku bunga acuan The Fed diperkirakan akan melandai ke level 2% setelah lama bertengger di 3%. Namun, ada dua katalis potensial yang perlu diperhatikan untuk mencapai level itu yakni hasil Brexit dan kesepakatan yang jelas dari fase pertama dalam perang dagang Amerika Serikat dan China.

Menurut proyeksi Wall Street yang berpusat pada imbal hasil Treasury sejak 10 tahun terakhir di AS menunjukkan bahwa proyeksi tersebut naik sekitar setengah poin persentase ketika ditutup pada 2019 yaitu sekitar 3.29%. Proyeksi tersebut akan jauh lebih dari 130 basis poin.

Pergantian dovish tersebut mengejutkan The Fed awal tahun ini sehingga dengan cepat menyelesaikan perdebatan terkait patokan suku bunga diperkirakan bisa kembali di atas 3%. Namun pertanyaanya adalah ketika menuju tahun 2020 apakah suku bunga masih di atas 2%?

Tidak banyak investor yang berpikir demikian. Dua katalis potensial utama untuk menjawab proyeksi tersebut adalah hasil Brexit yang ditentukan pada bulan ini serta kesepakatan perdagangan AS-China. Bahkan dengan semua itu karena sejak 10 tahun terakhir ini masih terjebak di atas 1.9%.

“Pertumbuhan global ini memang sulit dipahami. Ini tidak akan lepas landas hanya karena Anda memiliki sedikit resolusi fase pertama,” kata Manajer Investasi MacKay Shields Alexandra Wilson-Elizondo dilansir dari Bloomberg pada hari Minggu (22/12).

Menurutnya, hal ini sudah menjadi pola dalam beberapa minggu terakhir. Sejak Agustus 2019 lalu ternyata realisasi bunga tidak terlalu tinggi dari masa puncak bulan lalu yaitu sebesar 1.97%.

Yang berlawanan adalah bahwa para investor akhirnya mengkhawatirkan dari risiko terbesar terhadap kenaikan yang luar biasa dari pasar obligasi. Ekspektasi inflasi telah menggerakkan posisi terendah mereka.

Break even atau titik dimana biaya dan pendapatan seimbang telah mencerminkan prospek pasar untuk inflasi harga konsumen selama dekade berikutnya atau menyentuh 1.8% pada hari Jumat atau level tertinggi sejak Juli 2019 lalu.

Minat baru terhadap risiko inflasi telah meningkat sejalan dengan kenaikan data manufaktur di luar AS dan berlanjutnya terhadap ketahanan konsumsi domestik. Dan itu meningkatkan hasil kurva selama beberapa bulan terakhir.

Pada bulan Agustus, kegelisahan terhadap ekonomi global menggiring pembeli jatuh dalam tempo lebih lama dan ini mendorong hasilnya di bawah realisasi dua tahun lalu. Pembalikan itu telah menjadi sinyal resesi yang dapat diandalkan dalam beberapa tahun berikutnya.

Sekarang kurva dua hingga 10 tahun diperdagangkan sekitar 29 basis poin, setelah menyentuh titik tertajam sejak Oktober 2018 minggu lalu. Data hari Jumat menunjukkan ukuran tekanan harga yang disukai Fed naik menjadi 1.5%. Itu tertinggi sejak April, meskipun masih jauh dari ambang penting 2% lainnya yaitu target inflasi bank sentral.

“Anda telah melihat peningkatan dalam kurva Treasury, yang saya pikir sedang mencoba untuk mencerminkan beberapa peningkatan dalam ekspektasi inflasi,” kata Wilson-Elizondo.

“Tapi memasuki tahun baru ini adalah tahun ke-11 dari ekspansi, ada banyak risiko di sana.”

Ke depan jika ekonomi global sedang membaik, kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga stabil pada tahun depan dan hal ini menambatkan imbal hasil pada obligasi negara yang bertenor pendek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp us